anak lampu merah

siapa saya ini? saya bukan anak orang kaya, bukan juga anak orang yang miskin. ayah ibu saya, saya pikir mereka cukup untuk memenuhi hidup keluarga kami. tapi dengan berada di antara dua level kehidupan yang kenyataannya sangat timpang membuat saya berpikir beribukali tentang apa yang memang seharusnya akan saya lakukan untuk orang tua saya. saya ingin bersyukur karena telah diberi hidup dengan mereka. tapi walaupun begitu saya merasa lebih membebani mereka dan seperti menyianyiakan hidup saya demi dunia. saya ingin sekali membalasbudi mereka. saya ingin pikiran saya itu selalu dalam lingkup semangat agar saya bisa mewujudkan keinginan saya itu. dan ini semua saya tulis karena pengalaman saya kemarin.

kemarin tepatnya sekitar jam 7 saya ingin pergi ke asrama tempat tinggal teman saya. waktu itu saya diberhentikan oleh tanda merah pada lampu merah. seiiring berhentinya saya, saya mendengar alunan musik yang bertujuan untuk menghibur atau lebih tepatnya untuk sebuah hidup. saya berhenti, lalu dari balik mobil di depan saya, muncul anak kecil yang seumuran dengan adik saya, sepertinya dia habis menari dengan alunan musik tadi, dia menghampiri saya dengan wajah yang sungguh seperti mengatakan bahwa dia ingin mendapatkan uang dari usahanya, wajahnya membuat saya teringat adik saya dan membayangkan itu dia. saya benar-benar membayangkan itu adik saya. hati saya lalu bergetar, tapi saya tidak memberi dia uang. lalu saya melihat dia ke orang lain di belakang saya, tapi juga tidak diberi uang. perasaan saya waktu semakin sedih saja. melihatnya lalu duduk di dekat lampu merah menghitung uang yang mungkin sudah dia kumpulkan tadi. dia dengan usahanya menari di jalanan membuat saya salut. saya hanya bisa berdoa untuk dia semoga diberi keberuntungan dan selalu semangat. maaf bila saya tidak memberikan uang. tetaplah sabar, Allah pasti membantumu.

sampai saat ini saya masih memikirkan anak lampu merah itu. hidupnya yang penuh dengan usaha keras membuat saya sadar atas keberuntungan saya. saya ingin sekali kembali ke waktu itu dan memberinya uang. uang untuk penukar usaha dia menari di jalanan. saya tahu dia menari dengan tidak teratur, tapi itulah usaha dia. jangan samakan dengan orang yang mengadahkan tangan. wajahnya juga masih saya ingat. wajah yang ketakutan atau malu, tapi tetap berani untuk berusaha. untuk waktu ke depan saya akan hargai usaha dia dengan setimpal.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s